BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setiap siswa dapat dipastikan
memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran,
kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi
awal siswa saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting
untuk guru dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan
bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran
yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa sehingga
pembelajaran akan lebih bermakna.
Kegiatan menganalisis kemampuan
dan karakteristik siswa dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan
yang menerima siswa apa adanya dan untuk menyusun sistem pembelajaran atas
dasar keadaan siswa tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal
dan karakteristik siswa adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus
diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan pra syarat dalam
menyeleksi siswa sebelum mengikuti pembelajaran.
Karakteristik siswa merupakan
salah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefinisikan sebagai
aspek-aspek atau kualitas individu siswa. Aspek-aspek berkaitan dapat berupa
bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir dan
kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kemampuan
awal dan bagaimana karakteristik peserta didik ?
2. Bagaimana teknik untuk
mengidentifikasi kemampuan awal & karakteristik peserta didik?
3. Bagaimana tujuan untuk
mengidentifikasi kemampuan awal & karakteristik peserta didik?
4. Bagaimana contoh instrumen untuk
mengidentifikasi kemampuan awal & karakteristik peserta didik ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Peserta didik merupakan sumber
daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa belajar
tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya
kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau
pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan
peserta didik.[1]
Kemampuan awal (Entry Behavior)
adalah kemampuan yang telah diperoleh siswa sebelum dia memperoleh kemampuan
terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan
keterampilan siswa sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang
diinginkan guru agar tercapai oleh siswa. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan
dari mana pengajaran harus dimulai. Kemampuan terminal merupakan arah tujuan
pengajaran diakhiri. Jadi, pengajaran berlangsung dari kemampuan awal sampai ke
kemampuan terminal itulah yang menjadi tanggung jawab pengajar.[2]
Secara kodrati, manusia memiliki
potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu
pikiran, perasaan, dan kehendak. Sekalipun demikian, potensi dasar yang
dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia.[3]
Terdapat keunikan-keunikan yang ada pada diri manusia. Pertama, manusia berbeda
dengan makhluk lain, seperti binatang ataupun tumbuhan. Perbedaan tersebut
karena kondisi psikologisnya. Kedua, baik secara fisiologis maupun psikologis
manusia bukanlah makhluk yang statis, akan tetapi makhluk yang dinamis, makhluk
yang mengalami perkembangan dan perubahan. Ia berkembang khususnya secara fisik
dari mulai ketidakmampuan dan kelemahan yang dalam segala aspek kehidupannya
membutuhkan bantuan orang lain, secara perlahan berkembang menjadi manusia yang
mandiri. Ketiga, dalam setiap perkembangannya manusia memiliki karakter yang
berbeda.[4]
Esensinya tidak ada peserta didik
di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa masing-masing peserta
didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik peserta didik adalah
totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil
dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga
menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.
Karena itu, upaya memahami perkembangan peserta didik harus dikaitkan atau
disesuaikan dengan karakteristik siswa itu sendiri. Utamanya, pemahaman peserta
didik bersifat individual, meski pemahaman atas karakteristik dominan mereka
ketika berada di dalam kelompok juga menjadi penting. Ada empat hal dominan
dari karakteristik siswa.
a. Kemampuan dasar seperti kemampuan
kognitif atau intelektual.
b. Latar belakang kultural lokal,
status sosial, status ekonomi, agama dll.
c. Perbedaan-perbedaan kepribadian
seperti sikap, perasaan, minat, dll
d. Cita-cita, pandangan ke depan, keyakinan
diri, daya tahan,dll[5]
Terdapat beberapa pendapat tentang arti dari
karakteristik, yakni:
a. Menurut Tadkiroatun Musfiroh,
karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors),
motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
b. Menurut Sudirman Karakteristik
siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa
sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola
aktivitas dalam meraih cita-citanya.
c. Menurut Hamzah. B. Uno (2007)
Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang
terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir,
dan kemampuan awal yang dimiliki.
d. Ron Kurtus dalam berpendapat bahwa
karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang
sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”.
Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai
cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang
kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan
yang ada.[6]
Karakter seseorang baik disengaja
atau tidak, didapatkan dari orang lain yang sering berada di dekatnya atau yang
sering mempengaruhinya, kemudian ia mulai meniru untuk melakukannya. Oleh
karena itu, seorang anak yang masih polos sering kali akan mengikuti tingkah
laku orang tuanya atau teman mainnya, bahkan pengasuhnya. Erat kaitan dengan
masalah ini, seorang psikolog berpendapat bahwa karakter berbeda dengan
kepribadian, karena kepribadian merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dengan
kata lain kepribadian bersifat genetis.
B. Pengertian
Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Untuk mengetahui kemampuan awal
peserta didik, seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test) untuk
mengetahui kemampuan awal peserta didik tersebut. Tes yang diberikan dapat
berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu
pendidik dapat melakukan wawancara, observasi dan memberikan kuesioner kepada
peserta didik, guru yang mengetahui kemampuan peserta didik atau calon peserta
didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut. Teknik untuk
mengidentifikasi karakteristik siswa adalah dengan menggunakan kuesioner,
interview, observasi dan tes.[7]
Latar belakang siswa juga perlu dipertimbangkan dalam mempersiapkan materi yang
akan disajikan, di antaranya yaitu faktor akademis dan faktor sosial :
1. Faktor akademis
Faktor-faktor yang perlu menjadi
kajian guru adalah jumlah siswa yang dihadapi di dalam kelas, rasio guru dan
siswa menentukan kesuksesan belajar. Di samping itu, indeks prestasi, tingkat
inteligensi siswa juga tidak kalah penting
2. Faktor sosial
Usia kematangan (maturity)
menentukan kesanggupan untuk mengikuti sebuah pembelajaran. Demikian juga
hubungan kedekatan sesama siswa dan keadaan ekonomi siswa itu sendiri
mempengaruhi pribadi siswa tersebut[8]
Mengidentifikasi kemampuan awal
dan karakteristik siswa dalam pengembangan program pembelajaran sangat perlu
dilakukan, yaitu untuk mengetahui kualitas perseorangan sehingga dapat
dijadikan petunjuk dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran.
Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini bisa berupa bakat, motivasi
belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, minat dll
Keterampilan peserta didik yang
ada dalam kelas umumnya sangat heterogen. Sebagian peserta didik sudah banyak tahu, sebagian lagi belum
tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas.
Untuk mengatasi hal ini, ada dua
pendekatan yang dipilih. Pertama, peserta didik menyesuaikan dengan materi
pelajaran. Kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan peserta didik.
Pendekatan pertama, peserta didik
menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1)
Seleksi Penerimaan Peserta Didik
a. Pada saat pendaftaran, peserta
didik diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan program
pendidikan ang akan diambil.
b. Setelah memenuhi syarat
pendaftaran di atas, peserta didik mengkuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan
yang sesuai dengan program pendidikan yang diambilnya.
2) Tes dan Pengelompokan Peserta
Didik
Setelah melakukan seleksi seperti point satu, pengajar
mungkin masih akan menghadapi masalah peserta didik dalam mengambil mata
pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti mata
pelajaran tersebut. Selanjutnya, atas dasar hasil tes, setiap kelompok tersebut
mengikuti tingkat pelajaran tertentu. Tes dan pengelompkan seperti ini biasa
dilakukan oleh lembaga- lembaga pengelola kursus bahasa Inggris.
3) Lulus Mata Pelajaran Prasyarat
Alternatif lain, adalah mengharuskan peserta
didik lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat. Dalam suatu program
pendidikan seperti di perguruan tinggi terdapat mata kuliah atau mata pelajaran
yang mengharuskan prasyarat seperti itu.
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaika dengan
peserta didik peserta didik. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi
seleksi penerimaan peserta didik. Pada dasarnya, siapa saja boleh masuk dan
mengikuti pelajaran tersebut. Peserta didik yang belum tahu sama sekali dapat
mempelajari materi pelajaran tersebut dari bawah karena materi pelajaran memang
disediakan dari tingkat itu. Peserta didik yang sudah banyak tahu bisa memulai
dari tengah atau di atasnya. Bahan pelajaran itu didesain untuk menampung
peserta didik dalam tingkat kempuan awal manapun. Selanjutnya, peserta didik
dapat maju menurut kecepatan masing-masing, karena bahan tersebut didesain
untuk hal tersebut.[9]
Hasil kegiatan mengidentifikasi kemampuan
awal dan karakteristik siswa akan merupakan salah satu dasar dalam
mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk siswa. Dengan melaksanakan
kegiatan tersebut, masalah heterogen siswa dalam kelas dapat diatasi,
setidak-tidaknya banyak dikurangi.
C. Tujuan
Mengidentifikasi Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Identifikasi kemampuan awal dan
karakteristik peserta didik adalah salah satu upaya para guru yang dilakukan
untuk memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan
kepentingan peserta didik, berkaitan dengan suatu program pembelajaran
tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan
seperti; peserta didik, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta kepentingan program pendidikan/ pembelajaran tertentu yang
akan diikuti peserta didik.
Identifikasi kemampuan awal dan
karakteristik peserta didik bertujuan:
a. Memperoleh informasi yang lengkap
dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti
program pembelajaran tertentu.
b. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat,
kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan
program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka.
c. Menentukan desain program
pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan
kemampuan awal peserta didik.
Faktor-faktor yang
perlu diketahui tersebut adalah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor akademis
a. Berapa jumlah peserta didik dalam
satu kelas, apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah diampuh).
b. Bagaimana nilai rata-rata yang
dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
c. Apakah siswa mempunyai kebiasaan
bekerja sendiri
d. Bagaimana kebiasaan belajar siswa
e. Apakah siswa sudah mengetahui
serba sedikit latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari
f. Apakah tingkat intelegensinya
tinggi, sedang, atau rendah
g. Apakah siswamampu membaca cepat,
dll
2. Faktor-faktor Sosial
a. Umur
b. Kematangan
c. Perhatian (minat)
d. Apakah ada peserta didik yang
teladan dalam satu kelas
e. Apakah ada peserta didik yang
cacat fisik
f. Bagaimana hubungan antar peserta
didik
g. Bagaimana latar belakang
sosial-ekonomis.[10]
3. Kondisi Belajar
Menurut Dunn and Dunn dalam buku teknologi
instruksional, kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, penerapan, dan
penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap
seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-berbeda. Kita sering
menyaksikan bahwa anak-anak muda lebih suka (comfortable) belajar sambil
mendengarkan musik dari radio atau tape recorder disampingnya, dengn volume
yang cukup besar. Orang lain lebih suka belajar dalan ruangan yang tenang.
Dunn and Dunn membagi kondisi belajar menjadi
empat golongan:
a. Lingkungan fisik (physical
environment)
b. Lingkungan emosional (emotional
environment)
c. Lingkungan Sosiologis (sociologis
environment)
d. Kondisi fisiologis peserta didik
sendiri (student’s own physiological make up)
Untuk mengetahui kebiasaan dan kesenangan
belajar tiap siswa, seyogyanya pengajar menyusun kuisioner, atau langsung
mencari informasi dari tiap peserta didik tentang kondisi mana yang lebih
disukai. Hal ini akan menolong pengajar dalam membantu cara belajar peserta
didik.[11]
D. Contoh
Instrumen Untuk Mengidentifikasi Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Berikut ini adalah cara dan
instrument mengidentifikasi kemampuan awal dan peserta didik. Latihan ini akan
memakan waktu yang cukup panjang, karena anda harus mengumpulkan data dari
lapangan. Ikutilah latihan ini dengan tekun.
1. Kumpulkanlah data kompetensi dasar
peserta didik dari orang-orang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi
sasaran dengan cara:
a. Tulislah kembali datar kompetensi
dasar yang telah berhasil anda buat dalam kegiatan analisis instruksional;
b. Atas dasar data dan informasi
tersebut, buatlah skala penilaian sebagai berikut:
No
|
Kompetensi
Dasar
|
Amat
Baik
|
Baik
|
Cukup
|
Jelek
|
Amat
Jelek
|
1.
|
2.
|
3.
|
4.
|
5.
|
6.
|
7.
|
Keterangan:
Kolom
1 = Nomor urut
Kolom 2 =Kompetensi
dasar yang telah dihasilkan dalam analisis
instruksional
Kolom 3 s.d 7=
skala penilaian
c. Berilah petunjuk cara mengisi skala penilaian tersebut
kepada orang-orang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi sasaran, seperti
atasan langsung guru-guru mereka. Jumlah penilaian tergantung pada besarnya
populasi sasaran. Bagi peserta didik dalam jumlah kecil , skitar 10-20
responden sydah cukup memadai. Untuk peserta didik dalam jumlah besar dan ruang
lingkup nasional misalnya, diperlukan sekitar 30 sampai 50 responden;
d. Kumpulkan hasil isian tersebut.
2. Kumpulkanlah data perilaku awal peserta didik dari sampel
peserta didik. Di samping data dari orang-orang yang dekat dengan sasaran,
diperlukan pula data dari sampel sasaran itu sendiri dengan bentuk self-repport
ikutilah langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tulislah kembali perilaku khusus yang telah berhasil anda
buat dalam analisis instruksional;
b. Atas dasar perilaku khusus tersebut, buatlah skala
penilaian dalam bentuk skala Likert (sangat setuju, setuju, netral, tidak
setuju, dan sangat tidak setuju);
c. Berilah pedoman cara mengisi skala penilaian tersebut dan
perbanyak secukupnya;
d. Berilah skala penilaian tersebut kepada sejumlah peserta
didik yang dapat mewakili populasi sasaran. Jumlahnya juga tergantung dari
besarnya populasi sasaran. Yang paling penting diperhatikan adalah sampel
tersebut memiliki ciri-ciri seperti populasi sasaran, sehingga dapat dipandang
sebagai sampel yang representatif;
e. Kumpulkan hasil isian tersebut
3. Kumpulkan data perilaku awal peserta didik dengan
menggunakan observasi dan tes.
4. Kumpulkan data karakteristik awal peserta didik dengan
mengikuti langkah-langkag sebagai berikut:
a. Buatlah daftar pernyataan atau kuesioner tentang
karakteristik peserta didik seperti telah diuraikan di atas dan karakteristik
lain sebagai berikut:
1) Tempat kelahiran
2) Pekerjaan atau bidang pengetahuan
3) Kesenangan (hobby)
4) Bahasa sehari-hari dan bahasa asing yang dikuasai
5) Alat-alat audio-visual yang dimiliki dirumah atau biasa
digunakan sehari-hari
6) Dan lain-lain yang dianggap penting bagi pengenbangan
desain instruksional
b. Berikanlah kuesioner tersebut kepada sejumlah sampel yang
dapat mewakili populasi sasaran;
c. Kumpulkan hasilnya
5. Analisislah hasil pengumpulan data butir 1 dan 2 atau 3
butir saja untuk menentukan perilaku awal yang telah dikuasai populasi sasaran.
6. Buatlah garis batas antara kedua kelompok perilaku
tersebut pada bagan hasil analisis instruksional untuk menunjukkan dua hal
sebagai berikut:
a. Perilaku-perilaku yang ada di bwah garis batas adalah
perilaku yang telah dikuasai olehpopulasi sasaran sampai tingkat cukup dan
baik.
b. Perilaku-perilaku yang ada di atas garis batas adalah
perilaku yang belum dikuasai oleh populasi sasaran atau baru dikuasai sampai
tingkat sedang, kurang, dan buruk.
7. Susunlah urutan perilaku yang ada di atsa garis batas
untuk dijadikan pedoman dalam menentukan urutan materi pelajaran.
8. Tafsirkan data tentang karakteristik peserta didik untuk
menggambarkan hal sebagai berikut:
a. Lingkungan budaya
b. Pekerjaan atau bidang pengetahuan yang menjadi keahlian
c. Kesenangan (hobby)
d. Bahasa yang dikuasai
e. Alat audio-visual ynag dimiliki atau yang biasa digunakan
sehari-hari
f. Dan lain-lain
Berikut ini latihan untuk ketrampilan merumuskan TIU,
membuat analisis instruksional, dan membuat rumusan TIU. Ikutilah
langkah-langkah ini dengan cermat.
1.
Tentukan judul
mata kuliah atau mata pelajaran yang anda ampu sesuai dengan tugas yang
diberikan pimpinan.
2.
Carilah nilai
rata-rata mata kuliah atau mata pelajaran tersebut yang diperoleh peserta didik
dalam bebrapa semester terakhir.
3.
Berapakah
nilai rata-rata peserta didik yang anda harapkan bila mata kuliah atau mata
pelajaran anda sedah direvisi melalui proses desain instruksional dan
dilaksanakan sesuai hasil revisi tersebut
4.
Tentukan TIU
mata kuliah-mata pelajaran anda; ajaklah 2-3 orang teman sejawat sesama pengajar
untuk memvalidasi TIU anda
5.
Lakukan
analisis instruksional dengan menjabarkan TIU sehingga menghasilakan peta
kompetensi mata kuliah atau mata pelajaran yang anda ampu.
6.
Tentukan entering
behavior line dalam peta kompetensi tersebut
7.
Tuliskan semua
TIK mata kuliah atau mata pelajaran anda
8.
Diskusikan
hasil butir 4-7 tersebut di atas dengan dua atau tiga teman sejawat anda.
9.
Revisi hasil
kerja anda atas dasar hasil diskusi seperti yang dimaksudkan dalam butir 8
untuk anda gunakan.
10. Selamat berlatih.[12]
Contoh angket sederhana untuk
mengetahui kemampuan awal siswa. Seperti memberikan pertanyaan sebabagai
berikut:
Seberapa luas pengetahuanmu tentang iman?
1. Saya belum pernah mendengar istilah itu.
2. Saya pernah mendengar tapi belum tahu
tentang iman.
3. Saya hanya tahu sedikit tentang iman.
4. Saya belum tahu pengertian iman secara
luas.
Atau dengan menggunakan peta
konsep, ternyata peta konsep juga dapat dijadikan alat untuk mengecek
pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran.
Caranya, tuliskan sebuah kata kunci utama tentang topik yang akan dipelajari
hari itu di tengah-tengah papan tulis. Misalnya "iman". Berikutnya
guru meminta siswa menyebutkan atau menuliskan konsep-konsep yang relevan
(berhubungan) dengan konsep iman dan membuat hubungan antara konsep iman dengan
konsep yang disebut (ditulisnya) tadi. Seberapa pengetahuan awal yang dimiliki
siswa dapat terlihat sewaktu mereka bersama-sama membuat peta konsep di papan
tulis.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik
awal peserta didik adalah pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya dan
menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik tersebut yang
bertujuan untuk menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan
dan perilaku yang harus diajarkan kepada peserta didik. Perilaku yang akan
diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan instruksional khusus atau
TIK itu.
Cara melaksanakan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a. dilakukan di waktu awal sebelum
menyusun instruksional pengajaran;
b. teknik yang digunakan dapat dengan
tes, interview, observasi, dan kuisioner;
c. dapat dilakukan oleh pendidik mata
pelajaran atau orang-orang yang dianggap paham dengan kemampuan peserta didik.
Kegiatan ini memberi manfaat:
a. untuk mengetahui kualitas
perseorangan sehingga dapat dijadikan petunjuk dalam mendeskripsikan strategi
pengelolaan pembelajaran
b. hasil kegiatan mengidentifikasi
perilaku dan karakteristik awal peserta didik akan merupakan salah satu dasar
dalam mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk peserta didik.
B. Saran
Guru kiranya dapat memahami
pengetahuan mengenai kegiatan mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal
siswa, serta dapat memanfaatkannya dalam menerapkan selaku seorang perencana/perancang
instruksional pengajaran.
PUSTAKA
Ø
Sudarwan danim,
Perkembangan Peserta Didik, ( Bandung: Alfabeta, 2010)
Ø
Mukhtar, Desain
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet 1, Jakarta: CV Misaka Galiza,
2003)
Ø
Sunarto dan
Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, ( Jakarta: Rineka Cipta,2008)
Ø
Wina Sanjaya,
Perkembangan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2011)
Ø
Moh Zaen Fuadi,
“Identifikasi Perilaku Dan Karakteristik Awal Siswa”, diakses dari http://moh-zaen-fuadi.blogspot.com/2011/11/identifikasi-prilaku-dan-karakter-awal.html, Di
akses 9 April 2015.
Ø
Yatim Riyanto, Paradigma
Baru Pembelajaran, (Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009)
Ø
M.Atwi
Suparman, Desain Instruksional Modern, (Jakarta: Erlangga, 2012)
Ø
Mudhofir, TEKNOLOGI
INSTRUKSIOAL,(Bandung,: PT REMAJA ROSDAKARYA,1999)
[1] Sudarwan danim,
Perkembangan Peserta Didik, ( Bandung: Alfabeta, 2010), hlm.1.
[2] Mukhtar, Desain
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet 1, Jakarta: CV Misaka Galiza,
2003),hlm. 57
[3] Sunarto dan
Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, ( Jakarta: Rineka
Cipta,2008),hlm.10.
[4] Wina Sanjaya,
Perkembangan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2011), hlm. 252-253
[5]Op
Cit., Sudarwan
danim, Perkembangan Peserta...,hlm.4.
[6] Moh Zaen Fuadi,
“Identifikasi Perilaku Dan Karakteristik Awal Siswa”, diakses dari http://moh-zaen-fuadi.blogspot.com/2011/11/identifikasi-prilaku-dan-karakter-awal.html, pada tangga
17 Maret 2015, 19:30 WIB.
[7] Yatim Riyanto, Paradigma
Baru Pembelajaran, (Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009), hal. 132
[8]Op.
Cit., Mukhtar,
Desain Pembelajaran...,hlm. 57-58
[9]
M.Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern, (Jakarta: Erlangga,
2012), hlm 178-179
[10]
Mudhofir, TEKNOLOGI INSTRUKSIOAL,(Bandung,: PT REMAJA ROSDAKARYA,1999),
hlm 101-102
[11] Ibid.,
hlm 102-103
[12]
M.Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern, (Jakarta: Erlangga, 2012),
hlm 185-188
Tidak ada komentar:
Posting Komentar