Jumat, 08 Mei 2015

PERENCANAAN SISTEM PENGAJARAN PAI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap siswa dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal siswa saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
Kegiatan menganalisis kemampuan dan karakteristik siswa dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan pra syarat dalam menyeleksi siswa sebelum mengikuti pembelajaran.
Karakteristik siswa merupakan salah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas individu siswa. Aspek-aspek berkaitan dapat berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan kemampuan awal dan bagaimana karakteristik peserta didik ?
2.      Bagaimana teknik untuk mengidentifikasi kemampuan awal & karakteristik peserta didik?
3.      Bagaimana tujuan untuk mengidentifikasi kemampuan awal & karakteristik peserta didik?
4.      Bagaimana contoh instrumen untuk mengidentifikasi kemampuan awal & karakteristik peserta didik ?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Peserta didik merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.[1]
Kemampuan awal (Entry Behavior) adalah kemampuan yang telah diperoleh siswa sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan siswa sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh siswa. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan dari mana pengajaran harus dimulai. Kemampuan terminal merupakan arah tujuan pengajaran diakhiri. Jadi, pengajaran berlangsung dari kemampuan awal sampai ke kemampuan terminal itulah yang menjadi tanggung jawab pengajar.[2]
Secara kodrati, manusia memiliki potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Sekalipun demikian, potensi dasar yang dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia.[3] Terdapat keunikan-keunikan yang ada pada diri manusia. Pertama, manusia berbeda dengan makhluk lain, seperti binatang ataupun tumbuhan. Perbedaan tersebut karena kondisi psikologisnya. Kedua, baik secara fisiologis maupun psikologis manusia bukanlah makhluk yang statis, akan tetapi makhluk yang dinamis, makhluk yang mengalami perkembangan dan perubahan. Ia berkembang khususnya secara fisik dari mulai ketidakmampuan dan kelemahan yang dalam segala aspek kehidupannya membutuhkan bantuan orang lain, secara perlahan berkembang menjadi manusia yang mandiri. Ketiga, dalam setiap perkembangannya manusia memiliki karakter yang berbeda.[4]
Esensinya tidak ada peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita. Karena itu, upaya memahami perkembangan peserta didik harus dikaitkan atau disesuaikan dengan karakteristik siswa itu sendiri. Utamanya, pemahaman peserta didik bersifat individual, meski pemahaman atas karakteristik dominan mereka ketika berada di dalam kelompok juga menjadi penting. Ada empat hal dominan dari karakteristik siswa.
a.       Kemampuan dasar seperti kemampuan kognitif atau intelektual.
b.      Latar belakang kultural lokal, status sosial, status ekonomi, agama dll.
c.       Perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dll
d.      Cita-cita, pandangan ke depan, keyakinan diri, daya tahan,dll[5]
Terdapat beberapa pendapat tentang arti dari karakteristik, yakni:
a.       Menurut Tadkiroatun Musfiroh, karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
b.      Menurut Sudirman Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.
c.       Menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.
d.      Ron Kurtus dalam berpendapat bahwa karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.[6]
Karakter seseorang baik disengaja atau tidak, didapatkan dari orang lain yang sering berada di dekatnya atau yang sering mempengaruhinya, kemudian ia mulai meniru untuk melakukannya. Oleh karena itu, seorang anak yang masih polos sering kali akan mengikuti tingkah laku orang tuanya atau teman mainnya, bahkan pengasuhnya. Erat kaitan dengan masalah ini, seorang psikolog berpendapat bahwa karakter berbeda dengan kepribadian, karena kepribadian merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dengan kata lain kepribadian bersifat genetis.
B.     Pengertian Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test) untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik tersebut. Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi dan memberikan kuesioner kepada peserta didik, guru yang mengetahui kemampuan peserta didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut. Teknik untuk mengidentifikasi karakteristik siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, interview, observasi dan tes.[7] Latar belakang siswa juga perlu dipertimbangkan dalam mempersiapkan materi yang akan disajikan, di antaranya yaitu faktor akademis dan faktor sosial :
1.      Faktor akademis
Faktor-faktor yang perlu menjadi kajian guru adalah jumlah siswa yang dihadapi di dalam kelas, rasio guru dan siswa menentukan kesuksesan belajar. Di samping itu, indeks prestasi, tingkat inteligensi siswa juga tidak kalah penting
2.      Faktor sosial
Usia kematangan (maturity) menentukan kesanggupan untuk mengikuti sebuah pembelajaran. Demikian juga hubungan kedekatan sesama siswa dan keadaan ekonomi siswa itu sendiri mempengaruhi pribadi siswa tersebut[8]
Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa dalam pengembangan program pembelajaran sangat perlu dilakukan, yaitu untuk mengetahui kualitas perseorangan sehingga dapat dijadikan petunjuk dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini bisa berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, minat dll
Keterampilan peserta didik yang ada dalam kelas umumnya sangat heterogen. Sebagian peserta  didik sudah banyak tahu, sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas.
Untuk mengatasi hal ini, ada dua pendekatan yang dipilih. Pertama, peserta didik menyesuaikan dengan materi pelajaran. Kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan peserta didik.
Pendekatan pertama, peserta didik menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1)        Seleksi Penerimaan Peserta Didik
a.       Pada saat pendaftaran, peserta didik diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan program pendidikan ang akan diambil.
b.      Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, peserta didik mengkuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang diambilnya.
2)      Tes dan Pengelompokan Peserta Didik
Setelah melakukan seleksi seperti point satu, pengajar mungkin masih akan menghadapi masalah peserta didik dalam mengambil mata pelajaran tertentu. Karena itu, perlu dilakukan tes sebelum mengikuti mata pelajaran tersebut. Selanjutnya, atas dasar hasil tes, setiap kelompok tersebut mengikuti tingkat pelajaran tertentu. Tes dan pengelompkan seperti ini biasa dilakukan oleh lembaga- lembaga pengelola kursus bahasa Inggris.
3)      Lulus Mata Pelajaran Prasyarat
Alternatif lain, adalah mengharuskan peserta didik lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat. Dalam suatu program pendidikan seperti di perguruan tinggi terdapat mata kuliah atau mata pelajaran yang mengharuskan prasyarat seperti itu.
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaika dengan peserta didik peserta didik. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi seleksi penerimaan peserta didik. Pada dasarnya, siapa saja boleh masuk dan mengikuti pelajaran tersebut. Peserta didik yang belum tahu sama sekali dapat mempelajari materi pelajaran tersebut dari bawah karena materi pelajaran memang disediakan dari tingkat itu. Peserta didik yang sudah banyak tahu bisa memulai dari tengah atau di atasnya. Bahan pelajaran itu didesain untuk menampung peserta didik dalam tingkat kempuan awal manapun. Selanjutnya, peserta didik dapat maju menurut kecepatan masing-masing, karena bahan tersebut didesain untuk hal tersebut.[9]
Hasil kegiatan mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa akan merupakan salah satu dasar dalam mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk siswa. Dengan melaksanakan kegiatan tersebut, masalah heterogen siswa dalam kelas dapat diatasi, setidak-tidaknya banyak dikurangi.

C.    Tujuan Mengidentifikasi Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Identifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik adalah salah satu upaya para guru yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan peserta didik, berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti; peserta didik, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program pendidikan/ pembelajaran tertentu yang akan diikuti peserta didik.
Identifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik bertujuan:
a.       Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu.
b.      Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka.
c.       Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Faktor-faktor  yang perlu diketahui tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Faktor-faktor akademis
a.       Berapa jumlah peserta didik dalam satu kelas, apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah diampuh).
b.      Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
c.       Apakah siswa mempunyai kebiasaan bekerja sendiri
d.      Bagaimana kebiasaan belajar siswa
e.       Apakah siswa sudah mengetahui serba sedikit latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari
f.       Apakah tingkat intelegensinya tinggi, sedang, atau rendah
g.      Apakah siswamampu membaca cepat, dll

2.      Faktor-faktor Sosial
a.       Umur
b.      Kematangan
c.       Perhatian (minat)
d.      Apakah ada peserta didik yang teladan dalam satu kelas
e.       Apakah ada peserta didik yang cacat fisik
f.       Bagaimana hubungan antar peserta didik
g.      Bagaimana latar belakang sosial-ekonomis.[10]

3.      Kondisi Belajar
Menurut Dunn and Dunn dalam buku teknologi instruksional, kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, penerapan, dan penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-berbeda. Kita sering menyaksikan bahwa anak-anak muda lebih suka (comfortable) belajar sambil mendengarkan musik dari radio atau tape recorder disampingnya, dengn volume yang cukup besar. Orang lain lebih suka belajar dalan ruangan yang tenang.
Dunn and Dunn membagi kondisi belajar menjadi empat golongan:
a.       Lingkungan fisik (physical environment)
b.      Lingkungan emosional (emotional environment)
c.       Lingkungan Sosiologis (sociologis environment)
d.      Kondisi fisiologis peserta didik sendiri (student’s own physiological make up)
Untuk mengetahui kebiasaan dan kesenangan belajar tiap siswa, seyogyanya pengajar menyusun kuisioner, atau langsung mencari informasi dari tiap peserta didik tentang kondisi mana yang lebih disukai. Hal ini akan menolong pengajar dalam membantu cara belajar peserta didik.[11]

D.    Contoh Instrumen Untuk Mengidentifikasi Kemampuan Awal Dan Karakteristik Peserta Didik
Berikut ini adalah cara dan instrument mengidentifikasi kemampuan awal dan peserta didik. Latihan ini akan memakan waktu yang cukup panjang, karena anda harus mengumpulkan data dari lapangan. Ikutilah latihan ini dengan tekun.
1.      Kumpulkanlah data kompetensi dasar peserta didik dari orang-orang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi sasaran dengan cara:
a.       Tulislah kembali datar kompetensi dasar yang telah berhasil anda buat dalam kegiatan analisis instruksional;
b.      Atas dasar data dan informasi tersebut, buatlah skala penilaian sebagai berikut:
No
Kompetensi
Dasar
Amat
Baik
Baik
Cukup
Jelek
Amat
Jelek
1.       
2.       
3.       
4.       
5.       
6.       
7.       















Keterangan:
Kolom 1        = Nomor urut
Kolom 2       =Kompetensi dasar yang telah dihasilkan dalam analisis
                        instruksional     
Kolom 3 s.d 7= skala penilaian
c.       Berilah petunjuk cara mengisi skala penilaian tersebut kepada orang-orang dekat dan dapat menilai kemampuan populasi sasaran, seperti atasan langsung guru-guru mereka. Jumlah penilaian tergantung pada besarnya populasi sasaran. Bagi peserta didik dalam jumlah kecil , skitar 10-20 responden sydah cukup memadai. Untuk peserta didik dalam jumlah besar dan ruang lingkup nasional misalnya, diperlukan sekitar 30 sampai 50 responden;
d.      Kumpulkan hasil isian tersebut.

2.      Kumpulkanlah data perilaku awal peserta didik dari sampel peserta didik. Di samping data dari orang-orang yang dekat dengan sasaran, diperlukan pula data dari sampel sasaran itu sendiri dengan bentuk self-repport ikutilah langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Tulislah kembali perilaku khusus yang telah berhasil anda buat dalam analisis instruksional;
b.      Atas dasar perilaku khusus tersebut, buatlah skala penilaian dalam bentuk skala  Likert (sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju);
c.       Berilah pedoman cara mengisi skala penilaian tersebut dan perbanyak secukupnya;
d.      Berilah skala penilaian tersebut kepada sejumlah peserta didik yang dapat mewakili populasi sasaran. Jumlahnya juga tergantung dari besarnya populasi sasaran. Yang paling penting diperhatikan adalah sampel tersebut memiliki ciri-ciri seperti populasi sasaran, sehingga dapat dipandang sebagai sampel yang representatif;
e.       Kumpulkan hasil isian tersebut

3.      Kumpulkan data perilaku awal peserta didik dengan menggunakan observasi dan tes.
4.      Kumpulkan data karakteristik awal peserta didik dengan mengikuti langkah-langkag sebagai berikut:
a.       Buatlah daftar pernyataan atau kuesioner tentang karakteristik peserta didik seperti telah diuraikan di atas dan karakteristik lain sebagai berikut:
1)      Tempat kelahiran
2)      Pekerjaan atau bidang pengetahuan
3)      Kesenangan (hobby)
4)      Bahasa sehari-hari dan bahasa asing yang dikuasai
5)      Alat-alat audio-visual yang dimiliki dirumah atau biasa digunakan sehari-hari
6)      Dan lain-lain yang dianggap penting bagi pengenbangan desain instruksional
b.      Berikanlah kuesioner tersebut kepada sejumlah sampel yang dapat mewakili populasi sasaran;
c.       Kumpulkan hasilnya

5.      Analisislah hasil pengumpulan data butir 1 dan 2 atau 3 butir saja untuk menentukan perilaku awal yang telah dikuasai populasi sasaran.
6.      Buatlah garis batas antara kedua kelompok perilaku tersebut pada bagan hasil analisis instruksional untuk menunjukkan dua hal sebagai berikut:
a.       Perilaku-perilaku yang ada di bwah garis batas adalah perilaku yang telah dikuasai olehpopulasi sasaran sampai tingkat cukup dan baik.
b.      Perilaku-perilaku yang ada di atas garis batas adalah perilaku yang belum dikuasai oleh populasi sasaran atau baru dikuasai sampai tingkat sedang, kurang, dan buruk.
7.      Susunlah urutan perilaku yang ada di atsa garis batas untuk dijadikan pedoman dalam menentukan urutan materi pelajaran.
8.      Tafsirkan data tentang karakteristik peserta didik untuk menggambarkan hal sebagai berikut:
a.       Lingkungan budaya
b.      Pekerjaan atau bidang pengetahuan yang menjadi keahlian
c.       Kesenangan (hobby)
d.      Bahasa yang dikuasai
e.       Alat audio-visual ynag dimiliki atau yang biasa digunakan sehari-hari
f.       Dan lain-lain
Berikut ini latihan untuk ketrampilan merumuskan TIU, membuat analisis instruksional, dan membuat rumusan TIU. Ikutilah langkah-langkah ini dengan cermat.
1.         Tentukan judul mata kuliah atau mata pelajaran yang anda ampu sesuai dengan tugas yang diberikan pimpinan.
2.         Carilah nilai rata-rata mata kuliah atau mata pelajaran tersebut yang diperoleh peserta didik dalam bebrapa semester terakhir.
3.         Berapakah nilai rata-rata peserta didik yang anda harapkan bila mata kuliah atau mata pelajaran anda sedah direvisi melalui proses desain instruksional dan dilaksanakan sesuai hasil revisi tersebut
4.         Tentukan TIU mata kuliah-mata pelajaran anda; ajaklah 2-3 orang teman sejawat sesama pengajar untuk memvalidasi TIU anda
5.         Lakukan analisis instruksional dengan menjabarkan TIU sehingga menghasilakan peta kompetensi mata kuliah atau mata pelajaran yang anda ampu.
6.         Tentukan entering behavior line dalam peta kompetensi tersebut
7.         Tuliskan semua TIK mata kuliah atau mata pelajaran anda
8.         Diskusikan hasil butir 4-7 tersebut di atas dengan dua atau tiga teman sejawat anda.
9.         Revisi hasil kerja anda atas dasar hasil diskusi seperti yang dimaksudkan dalam butir 8 untuk anda gunakan.
10.     Selamat berlatih.[12]

Contoh angket sederhana untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Seperti memberikan pertanyaan sebabagai berikut:
Seberapa luas pengetahuanmu tentang iman?
1. Saya belum pernah mendengar istilah itu.
2. Saya pernah mendengar tapi belum tahu tentang iman.
3. Saya hanya tahu sedikit tentang iman.
4. Saya belum tahu pengertian iman secara luas.
Atau dengan menggunakan peta konsep, ternyata peta konsep juga dapat dijadikan alat untuk mengecek pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran. Caranya, tuliskan sebuah kata kunci utama tentang topik yang akan dipelajari hari itu di tengah-tengah papan tulis. Misalnya "iman". Berikutnya guru meminta siswa menyebutkan atau menuliskan konsep-konsep yang relevan (berhubungan) dengan konsep iman dan membuat hubungan antara konsep iman dengan konsep yang disebut (ditulisnya) tadi. Seberapa pengetahuan awal yang dimiliki siswa dapat terlihat sewaktu mereka bersama-sama membuat peta konsep di papan tulis.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik adalah pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik tersebut yang bertujuan untuk menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada peserta didik. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan instruksional khusus atau TIK itu.
Cara melaksanakan kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a.       dilakukan di waktu awal sebelum menyusun instruksional pengajaran;
b.      teknik yang digunakan dapat dengan tes, interview, observasi, dan kuisioner;
c.       dapat dilakukan oleh pendidik mata pelajaran atau orang-orang yang dianggap paham dengan kemampuan peserta didik.
Kegiatan ini memberi manfaat:
a.       untuk mengetahui kualitas perseorangan sehingga dapat dijadikan petunjuk dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran
b.      hasil kegiatan mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik akan merupakan salah satu dasar dalam mengembangkan sistem instruksional yang sesuai untuk peserta didik.

B.     Saran
Guru kiranya dapat memahami pengetahuan mengenai kegiatan mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa, serta dapat memanfaatkannya dalam menerapkan selaku seorang perencana/perancang instruksional pengajaran.

                  







PUSTAKA
Ø  Sudarwan danim, Perkembangan Peserta Didik, ( Bandung: Alfabeta, 2010)
Ø  Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet 1, Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003)
Ø  Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, ( Jakarta: Rineka Cipta,2008)
Ø  Wina Sanjaya, Perkembangan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011)
Ø  Moh Zaen Fuadi, “Identifikasi Perilaku Dan Karakteristik Awal Siswa”, diakses dari http://moh-zaen-fuadi.blogspot.com/2011/11/identifikasi-prilaku-dan-karakter-awal.html, Di akses 9 April 2015.
Ø  Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009)
Ø  M.Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern,  (Jakarta: Erlangga, 2012)
Ø  Mudhofir, TEKNOLOGI INSTRUKSIOAL,(Bandung,: PT REMAJA ROSDAKARYA,1999)


[1] Sudarwan danim, Perkembangan Peserta Didik, ( Bandung: Alfabeta, 2010), hlm.1.
[2] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Cet 1, Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003),hlm. 57
[3] Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, ( Jakarta: Rineka Cipta,2008),hlm.10.
[4] Wina Sanjaya, Perkembangan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 252-253
[5]Op Cit., Sudarwan danim, Perkembangan Peserta...,hlm.4.
[6] Moh Zaen Fuadi, “Identifikasi Perilaku Dan Karakteristik Awal Siswa”, diakses dari http://moh-zaen-fuadi.blogspot.com/2011/11/identifikasi-prilaku-dan-karakter-awal.html, pada tangga 17 Maret  2015, 19:30 WIB.
[7] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009), hal. 132
[8]Op. Cit., Mukhtar, Desain Pembelajaran...,hlm. 57-58
[9] M.Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern,  (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm 178-179
[10] Mudhofir, TEKNOLOGI INSTRUKSIOAL,(Bandung,: PT REMAJA ROSDAKARYA,1999), hlm 101-102
[11] Ibid., hlm 102-103
[12] M.Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern,  (Jakarta: Erlangga, 2012), hlm 185-188

Tidak ada komentar:

Posting Komentar