KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena
atas berkat rahmat dan karunia – Nya lah, kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “TUJUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM”
tepat pada waktunya. Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas mata kuliah IPI (Ilmu Pendidikan Islam). Dengan membuat tugas ini semoga
wawasan kami semakin bertambah, aamiin.
Dalam menyelesaikan makalah ini, tim penulis telah
banyak mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini tim penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. H.
Asro’ie Thohir, M. Pd.I. selaku dosen mata kuliah IPI (Ilmu Pendidikan Islam)
yang telah memberikan tugas mengenai makalah ini sehingga pengetahuan tim
penulis mengenai tema makalah ini semakin bertambah.
2. Pihak pihak
yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah turut membantu
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Kami menyadari bahwa
penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu , kami
sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna
penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Harapan kami semoga penulisan makalah yang sederhana ini
bias memberikan manfaat kepada kita semua.
Semarang,
Oktober 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
- LatarBelakangMasalah 1
- RumusanMasalah 1
BAB II PEMBAHASAN
- Pengertian pendidikan 2
- Rumusan pendidikan menurut para pakar 2
- Prinsip-Prinsip Dalam Formulasi Tujuan Pendidikan Islam 5
- Komponen-Komponen Tujuan Pendidikan Islam 6
- Formulasi Tujuan Pendidikan Islam 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 13
B. Penutup 14
DAFTAR PUSTAKA 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam adagium ushuliyah dinyatakan bahwa : ”al-umuru
bimaqosidiha”, bahwa setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada
tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Adagium ini menunjukan bahwa
pendidikan seharusnya berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai bukan
semata-mata berorientasi padasederetan materi. Karena itulah, tujuan pendidikan
Islam menjadi kompenen pendidikan yang harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum
merumuskan kompenen-kompenen pendidikan yang lain.
Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan,
serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk
mencapai tujuan-tujuan lain. Disamping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak
usaha, agar kegitan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang
terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha
pendidikan.
Perumusan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi
pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspeknya, misalnya tentang:
1. Tujuan dan
tugas hidup manusia
2.
Memerhatikan sifat-sifat dasar (nature) manusia
3. Tuntutan masyarakat
4.
Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian pendidikan?
2.
Bagaimana Rumusan pendidikan menurut para pakar?
3.
Bagaimana Prinsip-Prinsip Dalam Formulasi Tujuan Pendidikan
Islam?
4.
Seperti Apa Komponen-Komponen Tujuan Pendidikan Islam?
5.
Bagaimana Formulasi Tujuan Pendidikan Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan
a. Pengertian
secara Terminologis
Tujuan adalah arah, haluan, jurusan maksud. Atau
tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang
yang melakukan suatu kagiatan. Atau menurut Zakiah Darajat, tujuan adalah
sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.[1]
b. Pengertian
secara Epistimologis
Tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam
mendefinisikan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep
dasar mengenai manusia, alam dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip-prinaip
dasarnya. Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan
visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya, sebenarnya pendidikan Islam
memiliki visi dan misi yang ideal, yaitu "RohmatanLil'alamin".
Mundzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan
hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau
keinginan-kainginan lainnya.[2]
B.
Rumusan Tujuan Pendidikan Menurut Para Pakar
Upaya dalam pencapaian tujuan pendidikan harus
dilaksanakan semaksimal mungkin, walaupun kenyataannya manusia tidak mungkin
menemukan kesempurnaan dalam berbagai hal. Adapun pendidikan Islam mempunyai
tujuan sendiri sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan
Al-Qu’ran. Meski sumber gagasan perumusan tujuan pendidikan Islam sama yaitu
Al-Qur’an dan Sunnah, para pakar pendidikan Islam membuat formulasi dengan
redaksi yang tidak sama, meski substasinya sama.
a. Ibnu Kaldun
merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam
mencakup:
1. Tujuan yang
berorientasi ukhrawi yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban
kepada Allah.
2. Tujuan yang
berorientasi duniawi yaitu membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kehidupan yang
lebih layak dan bermanfaat.[3]
b. Menurut al-Ghazali, tujuan umum pendidikan Islam
tercermin dalam dua segi:
1. Insan purna yang
bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
2. Insan purna yang
bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
c. Menurut Abdur
Rosyid, tujuan pendidikan Islam adalah:
- Mewujudkan insan yang mampu taqarrub pada Allah melalui pendidikan akhlak.
- Menciptakan individu yang memiliki pola piker yang ilmiah dan pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang dapat mengintegrasikan antara agama dengan ilmu serta amal saleh, guna memperoleh ketinggian derajat dalam berbagai dimensi kehidupan.
d. Menurut Saleh
Abdul Aziz bahwa tujuan pendidikan agama
Islam adalah untuk mendapat keridhoan Allah dan mengusahakan kehidupan.
e. Menurut Athiyah
al-ibrasyi bahwa tujuan pendidikan Islam adalah:
1.
Pembentukan akhlaq mulia
2.
Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
3.
Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan
segi-segi pemanfaatkan. Keterpaduan
antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
4.
Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi
keingian untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu
sekadar sebagai ilmu.
5.
mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi
tertentu sehingga mudah mencari rezeki.
f. Kursi Ahmad
memberikan rumusan tujuan pendidikan Islam dengan redaksi berikut:
Education is
mental physical and ,moral training and its aim to produce highly cultured men
and women fit to discharge their duties as good human being and as worthy
citizen of state.
“Pendidikan
adalah suatu pendidikan mental, fisik dan moral ia bertujuan untuk menghasilkan
pria dan wanita uang berkebudayaan tinggi, yang cakap melaksanakan tugas dan
kewajibannya sebagai manusia dan warga negara yang berguna.”[4]
g. Menurut hasil
seminar se-dunia tentang pendidikan Islam di Islambad 1980 merumuskan tujuan
pendidikan Islam sebagai berikut:
Education aims
at the balanced growth of total personality of man through the training of mans
spirit, intellect, the rational self, feeling and bodile sense. Education
should, therefore, linguistic both individually and collectively and motivate
all these aspect to ward goodness and attainment of perfection. The ultimate
aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the
level of individual, community, and humanity at large.
“Pendidikan
seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian
manusia srcara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan
dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya memberikan pelayanan
bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya meliputi aspek spiritual,
intelektual, imaginasi, fisik, ilmiah, linguistic, baik secraa individu, maupun
secara kolektif disamping memotifasi semua aspek tersebut kea rah kebaikan dan
pencapaian kesempurnaan. Tujuan utama pendidikan bertumpu pada terealisasinya
ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas dan manusia secara
luas.[5]
C.
Prinsip-Prinsip Dalam Formulasi Tujuan Pendidikan
Islam
Tujuan pendidikan Islam mempunyai beberapa prinsip
tertentu, guna menghantar tercapainya tujuan pendidikan Islam. Prinsip itu
adalah :
1. Prinsip
universal (syumuliyah)
Prinsip yang memandang keseluruhan aspek agama
(akidah, ibadah dan akhlak, serta muamalah), manusia (jasmani, rohani, dan
nafsani), masyarakat dan tatanan kehidupannya, serta adanya wujud jagat raya
dan hidup.
2. Prinsip
keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun qa iqtishadiyah).
Prinsip ini adalah keseimbangan antara berbagai aspek
kehidupan pada pribadi, berbagai kebutuhan individu dan komunitas, serta
tuntunan pemeliharaan kebudayaan silam dengan kebudayaan masa kini serta
berusaha mengatasi masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi.
3. Prinsip kejelasan (tabayun).
Prinsip yang didalamnaya terdapat ajaran hukum yang
memberi kejelasan terhadap kejiwaan manusia (qalbu, akal dan hawa nafsu) dan
hukum masalah yang dihadapi, sehingga terwujud tujuan, kurikulum dan metode
pendidikan.
4. Prinsip
tak bertentangan.
Prinsip yang didalamnya terdapat ketiadaan
pertentangan antara berbagai unsur dan cara pelaksanaanya, sehingga antara satu
kompenen dengan kompenen yang lain saling mendukung.
5. Prinsip
realisme dan dapat dilaksankan.
Prinsip yang menyatakan tidak adanya kekhayalan dalam
kandungan program pendidikan, tidak berlebih-lebihan, serta adanya kaidah yang
praktis dan relistis, yang sesuai dengan fitrah dan kondisi sosioekonomi,
sosopolitik, dan sosiokultural yang ada.
6. Prinsip
perubahan yang diingini.
Prinsip perubahan struktur diri manusia yang meliputi
jasmaniah, ruhaniyah dan nafsaniyah; serta perubahan kondisi psikologis,
sosiologis, pengetahuan, konsep, pikiran, kemahiran, nili-nilai, sikap peserta
didik untuk mencapai dinamisasi kesempurnaan pendidikan (QS. ar-Ra’d: 11).
7. Prinsip
menjaga perbedaan-perbedaan individu.
Prinsip yang memerhatikan perbedaan peserta didik,
baikciri-ciri, kebutuhan, kecerdasan, kebolehan, minat, sikap, tahap pematangan
jasmani, akal, emosi, sosial, dan segala aspeknya. Prinsip ini berpijak pada
asumsi bahwa semua individu ‘tidak sama’ dengan yang lain.
8. Prinsip dinamis dalam menerima perubahan
dan perkembangan yang terjadi pelaku pendidikan serta lingkungan dimana
pendidikan itu dilaksanakan.
D.
Komponen-Komponen Tujuan Pendidikan Islam
Secara teoritis, tujuan akhir dibedakan menjadi tiga
bagian, yaitu :
1. Tujuan
Normatif
Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan norma-norma yang
mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diinternalisasi, misalnya :
a.
Tujuan formatif yang bersifat memberi persiapan dasar yang korektif.
b. Tujuan selektif yang bersifat memberikan kemampuan
untuk membedakan hal-hal yang benar dan yang salah.
c. Tujuan determinatif yang bersifat memberi
kemampuan untuk mengarahkan dari pada
sasaran- sasaran yang sejajar dengan proses kependidikan.
d.
Tujuan integratif yang bersifat memberi kemampuan
untuk memadukan fungsi psikis (pikiran, perasaan, kemauan, ingatan, dan nafsu)
kearah tujuan akhir.
e.
Tujuan aplikatif yang bersifat memberikan kemampuan
penerapan segala pengetahuan yang telah diperoleh dalam pengalaman pendidikan.
2. Tujuan
Fungsional
Tujuan yang sasarannya diarahkan pada kemampuan
peserta didik untuk memfungsikan daya kognisi, afeksi, dan psikomotorik dari
hasil pendidikan yang diperoleh, sesuai dengan yang ditetapkan. Tujuan ini
meliputi :
- Tujuan individual, yang sasarannya pada pemberian kemampuan individual untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah diinternalisasikan kedalam pribadi berupa moral, intelektual dan skill.
- Tujuan sosial, yang sasarannya pada pemberian kemampuan pengamalan nilai-nilai kedalamm kehidupan sosial, interpersonal, dan interaksional dengan orang lain dalam masyarakat.
- Tujuan moral, yang sasarannya pada pemberian kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan moral atas dorongan motivasi yang bersumber pada agama (teogenetis), dorongan sosial (sosiogenetis), dorongan psikologis (psikogenetis), dan dorongan biologis (biogenetis).
- Tujuan profesional, yang sasarannya pada pemberian kemampuan untuk mengamalkan keahliannya, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
3. Tujuan
Operasional
Tujuan yang mempunyai sasaran teknis manajerial.
Menurut langeveld, tujuan ini dibagi menjadi enam macam, yaitu :
- Tujuan umum (tujuan total), menurut Kohnstam dan Guning, tujuan ini mengupayakan bentuk manusia kamil, yaitu manusia yang dapat menunjukan keselaraasn dan keharmonisan antara jasmani dan rohani, baik dalam segi kejiwaan, kehidupan individu, maupun untuk kehidupan bersama yang menjadikan integritas ketiga ini hakikat manusia.
- Tujuan khusus, tujuan ini sebagai indikasi tercapainya tujuan umum, yaitu tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan tertentu, baik berkaitan dengan cita-cita pembangunan suatu bangsa, tugas dari suatu badan atau lembaga pendidikan, bakat kemampuan peserta didik, seperti memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik untuk bekal hidupnya setelah ia tamat, dan sekaligus merupakan dasar persiapan untuk melanjutkan kejenjang pendidikan berikutnya.
- Tujuan tak lengkap, tujuan ini berkaitan dengan kepribadian manusia dari suatu aspek saja, yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup tertentu, misalnya kesusilaan, keagamaan, keindahan, kemasyarakatan, pengetahuan, dan sebagainya.
- Tujuan insidental (tujuan seketika), tujuan ini timbul karena kebetulan, bersifat mendadak, dan besifat sesaat, misalnya mengadakan sholat jenazah ketika ada orang yang meninggal.
- Tujuan sementara, tujuan yang ingin dicapai pada fase-fase tertentu dari tujuan umum, seperti fase anak yang tujuan belajarnya adalah membaca dan menulis, fase manula yang tujuan-tujuannya adalah membekali diri untuk menghadap ilahi, dan sebagainya.
- Tujuan intermedier, tujuan yang berkaitan dengan penguasaan suatu pengetahuan dan keterampilan demi tercapainya tujuan sementara, misalnya anak belajar membaca dan menulis, berhitung dan sebagainya.
E.
Formulasi Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang dikutip oleh
Majid ‘Irsan al-Kaylani,[6] tujuan
pendidikan Islam tertumpu pada empat aspek, yaitu :
- Tercapainya pendidikan tauhid dengan cara mempelajari ayat Allah SWT. Dalam wahyu-Nya dan ayat-ayat fisik (afaq) dan psikis (anfus).
- Mengetahui ilmu Allah SWT, melalui pemahaman terhadap kebenaran makhluk-Nya.
- Mengetahuai kekuatan (qudrah) Allah SWT melalui pemahaman jenis-jenis, kuantitas,dan kreativitas makhluk-Nya.
- Mengetahui apa yang diperbuat Allah SWT, (Sunnah Allah) tentang realitas (alam) dan jenis-jenis perilakunya.
Abdal Rahman Shaleh Abd Allah dalam
bukunya,Educational Theory, aQur’anic outlook,[7]
menyatakan tujuan pendidikan Islam dapat
diklasifikasikan menjadi empat dimensi, yaitu :
1. Tujuan Pendidikan Jasmani (al-Ahdaf al-Jismiyah)
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas
khalifah di bumi, melalui keterampilan-keterampilan fisik. Ia berpijak pada
pendapat dari Imam Nawawi yang menafsirkan “al-qawy” sebagai kekuatan iman yang
ditopang oleh kekuatan fisik, (QS.al-Baqarah : 247, al-Anfal :60).
2. Tujuan Pendidikan Rohani (al-Ahdaf al-Ruhaniyah)
Meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada
Allah SWT semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi
SAW dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam al-Qur’an (QS. Ali Imran :
19). Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua ( QS. Al-Baqarah :
10), berupaya memurnikan dan menyucikan diri manuisa secara individual dari
sikap negatif (QS al-Baqarah : 126) inilah yang disebut dengan tazkiyah
(purification) dan hikmah (wisdom).
3. Tujuan Pendidikan Akal (al-Ahdaf al-Aqliyah)
Pengarahan inteligensi untuk menemukan kebenaran dan
sebab-sebabnya dengan telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan
pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang berimplikasi kepada peningkatan iman kepada Sang
Pencipta. Tahapan akal ini adalah :
a.
Pencapaian kebenaran ilmiah (ilm al-yaqin) (QS.
Al-Takastur : 5)
b. Pencapaian
kebenaran empiris (ain al-yaqin) (QS. Al- Takastur : 7)
c. Pencapaian
kebenaran metaempiris atau mungkin lebih tepatnya sebagai kebenaran filosofis
(haqq –alyaqin) (QS. Al-Waqiah : 95).
4. Tujuan Pendidikan Sosial ( al-Ahdaf al-Ijtimaiyah)
Tujuan pendidikan sosial adalah pembentukan
kepribadian yang utuh yang menjadi bagian dari komunitas sosial.
Identitasindividu disini tercermin sebagai “al-nas” yang hidup pada masyarakat
yang plural (majemuk).
Menurut Muhammad Athahiyah al-Abrasy,[8]
tujuan pendidiakn Islam adalah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh
Nabi Muhammad SAW sewaktu hidupnya, yaitu pembentukan moral yang tinggi, karena
pendidikan moral merupakan jiwa pendidikan Islam, sekalipun tanpa mengabaikan
pendidikan jasmani, akal, dan ilmu praktis. Tujuan tersebut berpijak dari sabda
Nabi SAWyang diriwayatkan oleh Malik bin Anas dari Anas bin Malik).
انْما بُعثتُ لأتمم مكارمَ
الأخلاق عن انس بن مالك
“Aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”
Menurut
al-Ghazali, yang dikutip oleh Fathiyah
Hasan Sulaiman,[9]
tujuan umum pendidikan islam tercermin dalam dua segi, yaitu:
1. Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
2. Insan purna yang bertujuan
mendapatkan kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat. Pandangan dunia akhirat
dalam pandangan al-Ghazali adalah menempatkan kebahagiaan dalam proporsi yang
sebenarnya. Kebahagiaan yan lebih emiliki nilai universal, abadi, dan lebih
hakiki itulah yang diprioritaskan.
Rumusan
tujuan pendidikan Islam yang dihasilkan dari seminar pendidikan Islam sedunia
tahun 1980 di Islamabad adalah:
“Education
aims at the ballanced growth of total personality of man through the training
of man’s spirit, intelect, the rasional self, feeling and bodile sense.
Education should , therefore, cater, for the growth of man in all its aspects,
spiritual, intelectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both
individually and collectivelly, and motivate all these aspects toward goodness
and attainment of pefection. The ultimate aim of education lies in the
realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community
and humanity at large”.[10]
Maksudnya,
pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam
kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan,
rasio, perasaan, dan pancaindra. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya
pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya yang meliputi aspek
spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiyah, linguistik, baik secara
individu, maupun secara kolektif dan memotifasi semua aspek tersebut kearah
kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan utama pendidikan bertumpu pada
terealisasinya ketundukan kepada Allah SWT baik dalam level individu,
komunitas, dan manusia secara luas.
Dari
beberapa rumusan tujuan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam
adalah :”terbentuknya insankamil yang didalamnya memiliki wawasan khaffah agar
mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, dan pewaris nabi”.
Tujuan bisa dijabarkan dalam uraian sebagai berikut:
1.
Terbentuknya
“insankamil” ( manusia paripurna ) yang mempunyai wajah-wajah qur’ani.
2.
Terciptanya
“insankaffah”.
3.
Penyadaran
fungsi manusia sebagai hamba, khalifah Allah, serta sebagai pewaris nabi
(warasatalanbiya’) dan memberikan bekal yang memadahi dalam rangka pelaksanaan
fungsi tersebut.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan di antaranya :
1.
Tujuan
pendidikan Islam adalah melahirkan manusia paripurna, terbaik, insan kamil atau manusia yang bertaqwa
yaitu sosok manusia yang memahami peran
dan fungsinya dalam kehidupan, serta manyandarkan semuanya pada ajaran dan
hukum Allah SWT dan Rosulullah SAW.
2.
Adapaun
prinsip tujuan pendidikan Islam di anataranya :
a.
Prinsip
universal (syumuliyah)
b.
Prinsip
keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun qa iqtishadiyah).
c.
Prinsip
kejelasan (tabayun).
d.
Prinsip tak
bertentangan.
e.
Prinsip realisme
dan dapat dilaksankan.
f.
Prinsip
perubahan yang di ingini.
g.
Prinsip menjaga
perbedaan-perbedaan individu.
3.
Manurut
Abdal Rahman Shaleh Abd Allah dalam
bukunya, Educational Theory, a
Qur’anic outlook, menyatakan tujuan
pendidikan Islam dapat diklasifikasikan menjadi empat dimensi, yaitu :
a.
Tujuan
Pendidikan Jasmani (al-Ahdaf al-Jismiyah)
b.
Tujuan
Pendidikan Rohani (al-Ahdaf al-Ruhaniyah)
c.
Tujuan
Pendidikan Akal (al-Ahdaf al-Aqliyah)
d.
Tujuan
Pendidikan Sosial ( al-Ahdaf al-Ijtimaiyah)
B.
Penutup
Demikian makalah
yang kami susun semoga apa yang kita rumuskan, kita pelajari mendapatkan
anugrah dan inayah dari allah serta bermanfaat bagi kita semua. Dengan semangat
belajar yang tinggi pula insyaallah dapat menegakkan tiang agama dan
mendapatkan tempat yang mulia kelak di hari akhir amin ya robbal alamin.
DAFTAR
PUSTAKA
ü Ramayulis,
Ilmu Pendidikan Islam, Cet. Ke 5 (jakarta: Kalam Mulia, 2006)
ü Hamdan
Ihsan dan Fuad Ihsan,Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke 3 (Bandung : CV.
Pustaka Setia. 2007 )
ü Zubaedi, Filsafat Pendidikan Islam,
(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2012)
ü Majid
‘Irsan al-Kaylani, al-Fikr al-Tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, (al-Madinah
al-Munawarah: Maktabah Dar al-Tarats, 1986)
ü Abdal-Rahman
Shaleh Abd Allah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan la-Qur’an, terj. Arifin
HM, judul asli : Educational Theory, a Qur’anic outlook, (Jakarta:Rineka
Cipta, 1991)
ü Muhammad
Athahiyah al-Abrasy, Ruh al-Tarbiyah
wa al-Ta’lim, (Saudi Arabiyah: Dar al-Ahya’, tt.)
ü Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi
al-Ghazali,terj. Fathur Rahman, (Bandung: al-Ma’arif, 1986)
ü Arifin
H M,KapitaSelekta, PendidikanIslamdanUmum, (Jakarta:Bumi Aksara,1991)
[2] Hamdan
Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke 3 (Bandung :
CV. Pustaka Setia. 2007 ), hal. 68
[6] Majid
‘Irsan al-Kaylani, al-Fikr al-Tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, (al-Madinah
al-Munawarah: Maktabah Dar al-Tarats, 1986), hlm. 117-118.
[7] Abdal-Rahman
Shaleh Abd Allah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan la-Qur’an, terj. Arifin
HM, judul asli : Educational Theory, a Qur’anic outlook, (Jakarta:Rineka
Cipta, 1991), hlm. 138-153.
[8] Muhammad
Athahiyah al-Abrasy, Ruh al-Tarbiyah
wa al-Ta’lim, (Saudi Arabiyah: Dar al-Ahya’, tt.), hal. 30.
[9] Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Versi
al-Ghazali,terj. Fathur Rahman, (Bandung: al-Ma’arif, 1986), hlm.24.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar